Senin, 04 April 2016

Ke Baduy - Tahun 1979

Team BADUI NEWS , Drs Saefullah, pertama kali menginjakkan Bumi Badui tahun 1979. “Ketika itu kami masih Kuliah di IAIN Jogyakarta , berangkat ke Badui dengan menggunakan tiga buah Bus , sekitar 120 orang , didampingi Dosen Pembimbing” – ujar Pria kelahiran Banjarnegara itu.

Yang Unik, dari 120 an Mahasiswa-Mahasiswi dan Dosen Pembimbing , yang berhasil mencapai Badui Dalam - hanya sekitar 40 orang! Anehnya, ada beberapa Mahasiswi yang bisa ikut sampai ke Badui Dalam, namun tak seorangpun Dosen Pembimbing yang sanggup mencapai Puncak Kanekes itu. Imbuh Pak Ipul- panggilan akrab Drs.Saefullah. Dan inilah Penuturan selanjutnya dari Pak Ipul;

BUS Tak Boleh Masuk Badui
Dari Jogya kami menggunakan Bus ukuran besar , ketika memasuki wilayah Lebak , kami di hentikan oleh Polisi dan DLLAJR. Bis Kami di persilahkan masuk ke halaman Kabupaten, dan semua penumpang boleh istirahat di Pendopo Kabupaten- serta mendapat arahan langsung dari Bupati.
Rupanya, kami mendapat penjelasan, bahwa jalan menuju desa terdekat kearah Pemukiman Badui tidak cukup lebar untuk dilewati Bus, terutama kalau belok , dipastikan tidak bisa. Sehingga kami di sarankan ganti kendaraan truk kecil engkel.

Helipad Presiden Suharto
Selama perjalanan menuju Badui Dalam, kami didampingi Jaro- Tokoh adat Badui Luar , yang sudah menguasai Medan – maupun segala aturan disekitar Badui Luar maupun Badui Dalam.


Sebelum naik ke perkampungan Badui Dalam, kami semua disarankan untuk membawa bekal masing-masing. Baik bahan mentah ataupun makanan yang siap saji. Karena di atas tidak- atau belum ada warung makan ketika itu. Gunanya, yang mentah bisa dibarter- ditukar dengan makanan yang dimiliki oleh Masyarakat Badui, dan yang mateng tentu untuk cadangan masing-masing selama perjalanan.
Saya sendiri membawa roti dan susu kaleng , teman-teman yang lain bekalnya beda-beda.

Perjalanan Ke Pedalaman Badui ketika itu benar-benar menguras tenaga. Sehingga oleh Jaro Pemandu kami disarankan, bagi yang tidak kuat melanjutkan perjalanan boleh singgah di rumah penduduk Badui Luar, dan nginap sisana. Baru besoknya, setelah tim yang kuat kembali turun dari Badui Dalam- yang tidak kuat akan kembali bersama.

Naik tanjakan terjal , dan menuruni jalanan berbatu , menyeberangi sungai- berkali-kali seakan tak ada habisnya. Setiap kali ketemu sungai, saya berhenti ,langsung minum air sungai- dan menenggak Susu bekal yang saya bawa.

Hitung-hitung , dari tempat kendaraan kami parkir , sampai naik ke Badui Dalam , dan kemudian kembali lagi , menghabiskan waktu sekitar dua hari satu malam!

Semua Dosen Pembimbing – yang tidak bisa ikut naik ke Badui Dalam , berkali-kali marah , dan menyalahkan Panitia, yang terdiri dari para Mahasiswa, dianggap tak cukup jelas dan lengkap ketika melakukan survei sebelum ke Badui.


Tapi, kami yang sampai di Badui Dalam , sekitar 40 orang , lumayan terkejut, ketika Jaro Pemandu kami menunjukkan salah satu area terbuka dikawasan Badui Dalam , yang konon sering dipakai mendarat Helikopter Presiden Suharto ketika itu- untuk menemui Kepala Suku Badui , yang dipanggil Pu’un atau Karuhun. (kk/ipul/4mrt16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar