Team BADUI NEWS , Drs
Saefullah, pertama kali menginjakkan Bumi Badui tahun 1979. “Ketika itu kami
masih Kuliah di IAIN Jogyakarta , berangkat ke Badui dengan menggunakan tiga
buah Bus , sekitar 120 orang , didampingi Dosen Pembimbing” – ujar Pria kelahiran
Banjarnegara itu.
Yang Unik, dari 120 an Mahasiswa-Mahasiswi dan Dosen
Pembimbing , yang berhasil mencapai Badui Dalam - hanya sekitar 40 orang! Anehnya,
ada beberapa Mahasiswi yang bisa ikut sampai ke Badui Dalam, namun tak
seorangpun Dosen Pembimbing yang sanggup mencapai Puncak Kanekes itu. Imbuh Pak
Ipul- panggilan akrab Drs.Saefullah. Dan inilah Penuturan selanjutnya dari Pak
Ipul;
BUS Tak Boleh Masuk
Badui
Dari Jogya kami menggunakan Bus ukuran besar , ketika
memasuki wilayah Lebak , kami di hentikan oleh Polisi dan DLLAJR. Bis Kami di
persilahkan masuk ke halaman Kabupaten, dan semua penumpang boleh istirahat di
Pendopo Kabupaten- serta mendapat arahan langsung dari Bupati.
Rupanya, kami mendapat penjelasan, bahwa jalan menuju desa
terdekat kearah Pemukiman Badui tidak cukup lebar untuk dilewati Bus, terutama
kalau belok , dipastikan tidak bisa. Sehingga kami di sarankan ganti kendaraan
truk kecil engkel.
Helipad Presiden
Suharto
Selama perjalanan menuju Badui Dalam, kami didampingi Jaro-
Tokoh adat Badui Luar , yang sudah menguasai Medan – maupun segala aturan
disekitar Badui Luar maupun Badui Dalam.
Sebelum naik ke perkampungan Badui Dalam, kami semua
disarankan untuk membawa bekal masing-masing. Baik bahan mentah ataupun makanan
yang siap saji. Karena di atas tidak- atau belum ada warung makan ketika itu.
Gunanya, yang mentah bisa dibarter- ditukar dengan makanan yang dimiliki oleh
Masyarakat Badui, dan yang mateng tentu untuk cadangan masing-masing selama
perjalanan.
Saya sendiri membawa roti dan susu kaleng , teman-teman yang
lain bekalnya beda-beda.
Perjalanan Ke Pedalaman Badui ketika itu benar-benar
menguras tenaga. Sehingga oleh Jaro Pemandu kami disarankan, bagi yang tidak
kuat melanjutkan perjalanan boleh singgah di rumah penduduk Badui Luar, dan
nginap sisana. Baru besoknya, setelah tim yang kuat kembali turun dari Badui
Dalam- yang tidak kuat akan kembali bersama.
Naik tanjakan terjal , dan menuruni jalanan berbatu ,
menyeberangi sungai- berkali-kali seakan tak ada habisnya. Setiap kali ketemu
sungai, saya berhenti ,langsung minum air sungai- dan menenggak Susu bekal yang
saya bawa.
Hitung-hitung , dari tempat kendaraan kami parkir , sampai
naik ke Badui Dalam , dan kemudian kembali lagi , menghabiskan waktu sekitar
dua hari satu malam!
Semua Dosen Pembimbing – yang tidak bisa ikut naik ke Badui
Dalam , berkali-kali marah , dan menyalahkan Panitia, yang terdiri dari para
Mahasiswa, dianggap tak cukup jelas dan lengkap ketika melakukan survei sebelum
ke Badui.
Tapi, kami yang sampai di Badui Dalam , sekitar 40 orang ,
lumayan terkejut, ketika Jaro Pemandu kami menunjukkan salah satu area terbuka
dikawasan Badui Dalam , yang konon sering dipakai mendarat Helikopter Presiden
Suharto ketika itu- untuk menemui Kepala Suku Badui , yang dipanggil Pu’un atau
Karuhun. (kk/ipul/4mrt16)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar